Jumat, Februari 12, 2010

UPACARA SATU OTON

Om Awighnam Astu Nama Sidhham

Umumnya masyarakat di Bali upacara Satu Oton dilaksanakan setiap 6 bulan ( 210 hari ) perhitungan yang umumnya dipakai untuk menentukan otonan itu adalah :

Wewaran terutama :

Pancawara seperti:

· Umanis

· Pahing

· Pon

· Wage

· Keliwon

Saptawara seperti:

· Redite

· Soma

· Anggara

· Buda

· Wraspati

· Sukra

· Saniscara

Wuku seperti:

· Sinta

· Landep

· Ukir……..dstnya sampai 30 wuku.

Misalnya bayi yang lahir pada :

Pancawaranya : Keliwon Saptawaranya : Saniscara dan Wukunya adalah Landep maka otonanya jatuh pada tiap-tiap Saniscara Kliwon Landep atau setiap Tumpek Landep

Hari tersebut akan tiba setiap 210 hari ( 6 Bulan ) sekali.

Umumnya menurut kepercayaan masyarakat hindu di bali, kelahiran/kehidupan seseorang, baik mengenai perangainya/tingkah lakunya, mujur malang nasibnya akan di pengaruhi oleh: Lintang /Dauh, Ingkel, wuku serta wewaran-wewaran lainya terutama Pancawara dan Saptawara yang telah disebutkan diatas, sedangkan menurut kepercayaan kehidupan seseorang dibekali oleh “ Pala dan Karma “ yaitu hasil perbuatan semasa hidupnya yang terdahulu.

Karena terdorong oleh Karmanya sesorang akan lahir pada hari-hari yang tertentu sehingga lintang/dauh,Ingkel ,wuku serta wewaran-wewaran lainya dianggap mempengaruhi kehidupannya sesuai karamanya itu. Akan tetapi di yakini pula keburukan-keburukan yang disebabkan oleh hal-hal tersebut diatas( wewaran-wewara dsb ) dapat dihindari/dikurangi dengan jalan membuatkan upakara-upakara yang tertentu terutama pada hari lahirnya ( Otonannya ) yang disebut “Penebusan Otonan “.

Dengan membuatkan penbusan, diharapkan agar kesalahan-kesalahan serta keburukan-keburukannya yang terdahulu dapat dikurangi atau ditebus, sehingga kehidupannya yang sekarang benar-benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki serta meningkatkan diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Kiranya upacara Otonan ini dapat disamakan dengan hari Ulang Tahun karena kata Otonan berasal dari kata “ Wetuan “ yang berarti kelahiran.

Dengan demikian upacara Satu Oton bagi bayi adalah merupakan upacara Ulang Tahunnya yang pertama . serangkaian dengan upacara otonan yang pertama ini dilakukan pula upacara “Megundul” yang pertama yang bertujuan untuk membersihkan Siwa Dwaranya ( Ubun-Ubun . Mungkin pada waktu upacara Tiga Bulanan telah dilakukan Upacara Peguntingan rambut yang pertama tetapi rambutnya tidak dihabiskan sama sekali,melainkan yang menutupi ubun-ubunya dibiarkan dengan kata lain bayi masih memakai “Jambot”.

Upacara ini sering disebut Upacara Megundul Jambot yang disertai dengan pesaksi ke Bale Agung.

Karena sesuatu hal ada kalanya upacara Megundul Jambot ini tertunda samapi bayi berumur Tiga Oton atau lebih sehingga pelaksanaan hanya merupakan Simbolis belaka.

Lain dari pada itu bila pada upacara Tiga Bulanan bayi di katakana baru turun di atas pane( mulai belajar duduk ) maka pada upacara satu oton ini untuk pertama kalinya bayi diturunkan diatas tanah yang dianggap bayi baru belajar berjalan. Untuk maksud tersebut dimohonkan waranugraha kepada Ibu Pertiwi dengan pengharapan agar beliau mengasuh/menjaganya sehingga bayi tidak menemui kesulitan.

 

 

SUSUNAN UPAKARA

1.Upakara yang kecil :

Byakala, prayascita, perubayan pesaksi ke Bale Agung, banten turun tanah, banten kumara,jejanganan dan tetabaan seadanya, disertai dengan penebus otonan.

 

2.Upakara Yang Biasa ( Madya ) :

Seperti diatas, tetapi dilengkapi perubayan dan tetabaannya dilengkapi dengan guling bebangkit beserta runtutannya dan penebusan otonan.

3.Upakara Yang Besar :

Seperti diatas dilengkapi dudusan alit atau pedudusan agung serta tetabaan yang disesuaikan dengan upakara tersebut.

Catatan:

Perlengkapan untuk megundul adalah gunting, cincin bermata merah kartika sebanyak 5 bua, seet mingmang, karawista dan belayag ( sebagai tempat rambutnya ).

Tata Upacara.

Setelah dilakukan upacara mebyakala atau prayascita sebagai pendahuluan suatu upacara ( si bayi belum boleh di beri pebyakalaan ) dan upakara-upakara di pujai seluruhnya, maka si bayi diajak bersembahyang untuk mohon persaksian sesuai petunjuk pimpinan upacara, kemudian dilakukan upacara penguntingan rambut sebagai berikut :

  • Ubun-ubunnya ( Jambotnya ) di isi bunya teratai ( tunjung ), lalu di ciprati air cendana dengan “ KARABODA”, rambutnya yang akan dipotong ditempeli kartika, seet mingmang, bunga tunjung, lalu di masukan kedalam cincin yang berisi karawista dan berturut-turut dipotong di sebelah depan, sedbelah kiri, di belakang, serta di tengah.Rambut  beserta perlengkapannya di masukan kedalam “ Belayag” lalu di pendam di belakang Merajan Kemulan.
  • Upacara di lanjutkan dengan meprayascita, melukat, mejaya-jaya, natab banten dan akhirnya turun tanah serta bersembahyang mohon wangsuh pada .

 

Beberapa Mantra :

 

      1. Mantra untuk Megunting :

“ Om yata wya sakalpanem suci ikesume anidih papa klesa winasasyat bangkara mantram utamam ”.

 

      2. Mantram Cincin :

          “ Om Eng tejo Sakalpanem suci kama kasidhi papa kalesa winasa syat

          takara  mantram utamam”.

 

     3. Mantam Pancakusila( Seet Mingmang ):

        “ Om kusa sri kusa widyanem pawitram papanasanem papa kelesa winasa

        syat mang kara mantram utamam.

 

    4. Mantra Pegguntingan rambut di depan

         ” Om Sang Sadia Ya Namah Hilanganing Papa Klesa Petaka”

 

   5. Mantra Pengguntingan rambut di sebelah kanan

        ” Om Bang Bama Siwa Ya Namah Hilanganing Lararoga Wigena”

 

    6. Mantra Pengguntingan rambut di sebelah kiri

        “ Om Ang Hagora Ya Namah, Hilanganing Gering Sasab Merana”

 

   7. Mantra Pengguntingan rambut di belakang.

       “ Om Tang Tat Purusa Ya Namah, Hilanganing Gagodan, Satru Muduh”

 

   8. Mantra Pengguntingan rambut di Tengah.

       “ Om Ing Hisana Ya Namah, Hilanganing Sebel Kandel Sang Pinetik”

 

Penjelasan Banten Perurubayan:

Alasan di pakai sebuah dulang atau yang lain, diatasnya diisi sebuah taledan, kemudian tumpeng putih dan kuning, masing-masing satu biji, dilengkapi dengan jajan, buah-buahan, laukpauk dengan dagingnya Ayam yang dipanggang serta dilengkapi dengan canang burat wangi, pesucian dan lain-lainnya.

Bila Upacara yang besar maka daging Ayam dig anti dengan Kucit /babi yang diguling serta memakai “ Jambot” dan umumnya kucit yang dipakai adalah kucit yang jantan( Bukan Kucit Butuhan), melainkan sudah di kebiri ( pecula ).

Sebagai perlengkapannya adalah suci satu soroh, sesayut pengambeyan, peras penyeneng atau memakai bebangkit selengkapnya.


Related Articles



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih, komentar anda sangat berarti bagi Blogputrasekarbali. Isi pendapat anda tentang blog ini di Testimoni.

Link Sahabat Putrasekarbali

BANNER SAHABAT

Buat Sobat yang mau pasang Banner di sini, silahkan tinggalkan alamat banner anda di buku tamu atau di kolom komentar blog ini, buat yang sudah pasang bannernya disini, terimakasih dan salam persahabatan dari Putrasekarbali


BLOGPUTRASEKARBALI © Putrasekarbali Melajah Ngae blog, pang sing orahange blog, nu masi blog