Thursday, February 11, 2010

DUNIA HINDU

1.CANANG SARI (CARA MEMBUAT DAN KAJIAN FILOSOFIS)

clip_image002 

”Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara kahiwangan-kahiwangan”.- Canang sari yaitu inti dari pikiran dana niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit). Canang sari adalah suatu Upakāra /banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala Upakāra yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu Upakāra /bebanten. Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari?. Canang sari sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan. Yaitu:
Ceper.ü Ceper adalah sebagai alas dari sebuah canang, yang memiliki bentuk segi empat. Ceper adalah sebagai lambang angga-sarira (badan), empat sisi dari pada ceper sebagai lambang/nyasa dari Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, Panca Karmendriya. Keempat itulah yang membentuk terjadinya Angga-sarira (badan wadag) ini.
Beras. Berasü atau wija sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Ātma , yang menjadikan badan ini bisa hidup, Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Ātma . Ceper sebagai lambang/nyasa angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Ātma . Tak ubahnya bagaikan benda mati, yang hanya menunggu kehancurannya. Maka dari itulah di atas sebuah ceper juga diisi dengan beras, sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Ātma . Maka dari itulah hidup kita di belenggu oleh Citta dan Klesa, Ātma menimbulkan terjadinya Citta Angga-sarira (badan kasar) menimbulkan terjadinya klesa, itulah yang menyebabkan setiap umat manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Porosan.ü Sebuah Porosan terbuat dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa Tri-Premana, Bayu, Sabda, dan Idep (pikiran, perkataan, dan perbuatan). Daun sirih sebagai lambang warna hitam sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang/nyasa dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai nyasa Bhatara Brahma, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai lambang/nyasa Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Idep (pikiran). Suatu kehidupan tanpa dibarengi dengan Tri-premana dan Tri Kaya, suatu kehidupan tiadalah artinya, hidup ini akan pasif, karena dari adanya Tri-premana dan Tri Kaya itulah kita bisa memiliki suatu aktivitas, tanpa kita memiliki suatu aktivitas kita tidak akan dapat menghadapi badan ini. Suatu aktivitas akan terwujud karena adanya Tri-Premana ataupun Tri-kaya.
Tebu dan pisang. Di atas sebuah ceper telahü diisi dengan beras, porosan, dan juga diisi dengan seiris tebu dan seiris pisang. Tebu atapun pisang memiliki makna sebagai lambang/nyasa amrtha. Setelah kita memiliki badan dan jiwa yang menghidupi badan kita, dan tri Pramana yang membuat kita dapat memiliki aktivitas, dengan memiliki suatu aktivitaslah kita dapat mewujudkan Amrtha untuk menghidupi badan dan jiwa ini. Tebu dan pisang adalah sebagai lambang/ nyasa Amrtha yang diciptakan oleh kekuatan Tri Pramana dan dalam wujud Tri Kaya.
Sampian Uras. Sampian uras dibuat dari rangkaian janurü yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. Yaitu : Dahram (Kebijaksanaan), Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan), Pasupati (ketajaman, intelektualitas), kama (Kesenangan), Eswarya (kepemimpinan), Krodha (kemarahan), Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam), Kala ( kekuatan). Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.
Bunga. Bunga adalahü sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selaludilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.
Kembang Rampai. Kembang rampai akan ditaruh di atasü susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang/nyasa kebijaksanaan. Dari kata kembang rampai memiliki dua arti, yaitu: kembang berarti bunga dan rampai berarti macam-macam, sesuai dengan arah pengider-ideran kembang rampai di taruh di tengah sebagai simbol warna brumbun, karena terdiri dari bermacam-macam bunga. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehiupan ini hendaknya kita memiliki kebijaksanaan.
Lepa. Lepaü atau boreh miyik adalah sebagai lambang/nyasa sebagai sikap dan prilaku yang baik. Boreh miyik/lulur yang harum, lalau seseorang memaki lulur, pasti akan dioleskan pada kulitnya, jadi lulur sifat di luar yang dapat disaksikan oleh setiap orang. Yang dapat dilihat ataupun disaksikan oleh orang lain adalah prilaku kita, karena prilakunyalah seseorang akan disebut baik ataupun buruk, seseorang akan dikatakan baik apabila dia selalu berbuat baik, begitu juga sebaliknya seseorang akan dikatakan buruk kalau di selalu berbuat hal-hal yang tidak baik. Boreh miyik sebagai lambang/nyasa perbuatan yang baik.
Minyak wangi.ü Minyak wangi/miyik-miyikan sebagai lambang/nyasa ketenangan jiwa atau pengendalian diri, minyak wangi biasanya diisi pada sebuah canang. Sebagai lambang/nyasa di dalam kita menata hidup dan kehidupan ini hendaknya dapat dijalankan dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik, saya umpamakan seperti air yang tenang, di dalam air yang kita akan dapat melihat jauh ke dalam air, sekecil apapun benda yang ada dalam air dengan gampang kita dapat melihatnya. Begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang mantap kita akan dapat menyelesaikan segala beban hidup ini.
Canang adalah pada dasarnya sebagai wujud dari perwakilan kita untuk menghadap kepada-Nya. Kalau kita dapat meresapi dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang terkandung dalam makna Canang sari di atas, pasti bhakti kita akan diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kita dapat mengarungi kehidupan ini dengan damai sejahtera sekala niskala.
Karena ketaqwaan seseorang beragama bukanlah dinilai dari seringnya mereka sembahyang atau menghaturkan persembahan yang mewah-mewah, melainkan sejauh mana mereka dapat merealisasikan dalam bentuk prilakunya dalam bermasyarakat. Karena suatu ajaran Agama tidak hanya cukup untuk diresapi ataupun dihayati saja, melainkan harus dipraktekan dalam kehidupan nyata sehari-hari di dalam masyarakat.
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======

sumber topik: disini

2.Banten

 

clip_image001
Banten Hubungan dengan benda jasmaniah, oh Arjuna === menimbulkan panas dan dingin, senang dan duka === dan semua ini datang dan pergi, tidak abadi === karena pikullah, wahai Kuntipura. (BG II, 14)
Nian tingkahe ngamong karya,miwah saluwiring seraja karya,patut matur matur piuninga dumun ring dewan kayune ring. Ida Betara Berahma, ring sang dewa petara ane kesasar. Wenang nanceban sanggah cucuk, diarepan paone, (3) telung besik aturane munggah ring sanggah cucuke : daksina pada mabesik, ajengan putih kuning pada mabesik, canang lengwangwi, burat wangi, beten segean pada mesoroh, suang katur ring betara Berahma, ring dewan kayune, ring dewa ane kesasar, ide same aturin ngambel karyane apang rahayu.
Yan nora samangkana katemah denira sang tiga tansida gawenia. Ape marmana mangkana apan saluwiring ngawitin ngambil karya, ngerubuh sarwa kayu, saluwire sedaging ipun, sami masedana saking taru (punyane, done, buahne, bungane, rauh saangne, same mangge).
Muah ang sire angamong karya, yan amejah wewalungan angge upekara, asuci sira rumuhun, tur apeningan raris matepung tawar mangkana, nunas tirta ring dalem, mewastra palengsa peradeg.
Yan amejah bawi (ngorok celeng) :
Mantra : pukulun catur pada, betara ngawe kita pamulihan kite ring daksena, manembah kite ring betara Berahma, wus nembah mewali kita kemadia pada, menadi kita Berahmana sakti yang lanang, yan wadong mahening warnawira, angawetutur rahayu, rumaga sang hyang Darma, Ong wang namah suaha.
Yan sira amejah bebek, (ngorok bebek) :
Mantra : pukulun duwi pade dempe, betare nggawe kita, pamuliha kita ersania, manembah kita ring betara Sambu, wus nembah mewali kita kemadia pada, medadi Bujangga sakti, yan lanang, yan wadon menadi manira anggawe tutur rahayu merangga sang hyang Darme, Ong wang namah suaha.
Yan amejah siap (ngorok siap):
Mantra : pukulan duwi pada tetek dimpil, betara ngawe kita, mulih kite ring purwa, manembah kita ring betara I suara, wus sira nembah, mewali kita, ka madia pada, menadi manusa sakti lanang, yan wadon mahening warneya amgawa tutur rahayu, rumaga kita sang hyang Darma, ng Rang namah suaha.
Yan sarwa selaku dada (wiyadin maupas) :
Mantra : pukulan slaku dada pamulih kite ring pancima, manembah kite ring utara, manembah kita ring Betara Mahediwa, Ong Tang namah suaha.
Yan sarwa urip ring toyo :
Mantra : pukulan sarwa mina betara ngawe kita, pamulih kita ring utara, manembah kita ring Beara Wisnu Ong namah suaha.
Yan ngawugan semida (saang) :
Mantra : pukulan sarwa semide rbetara ngawa kita ring genian manembah kita ring betara Mahesora, Ong Nang namah suaha.
Yan sarwa godong ( don - donan ) :
Mantra: pukulun sarwe godong , betara ngawe kita ,pamulih kita ring nariti ,manembah kita ring betara Rudra, ong Mang namah suaha.
Yan Eka pada ( yan ngematiang punyan kayu ) :
Mantra : pukulan suku tunggal, betara ngawe kita, pamulih kita ring baya-biyaring betare Sangkara, Ong sing namah suaha.
Yan malepas saliwiring we, tujunen ring madia, rng betara Siwa, Ong Hyang-Ong Hyang namah suaha, Ong Siwa nirmala nirgaya namah suaha, Ong, Ong, Peramweiwa nirogamah suaha, Ong, Ong sama sampurna nama suaha.
Wenten malih japa, pengelepas saluwiring pinet (saluwiring kepademang) luwire : kebo, sampi, celeng, ayam, bebek (itik) kunang, mantra : Ong, sukseme taya, mibere sang dara putih, sukseme taya miber sang kitire putih, suksema taya, miber mangulon putih, jeng tur ilang.
Yan sira amejah patik wenang, pukulan ika anuduhakena, suarganie suang-suang. Pada anadi suarga, rahayu sang amajeh kelawan sang kapejahang.
Yanore samangkana, anemutan rahayu, sang ngematiang wewalungan ika, kedande denira sang hyang catur lokepale yang benerdenira, sanakte catur anadi begawan catur loke pala, samangkan tigkaha angamong karya pagehakera.
Yan sira ngewangun karye saluwiring karya, patut ngangga ngelingan kecaping aji saresewati, saluwiring wewalungane mangge upekara, jagi kepademang (kematiang) mangga upekara, patut ngemargiang gelar pegal-mangsa. Yan tan masedana upekara, tan suaste karyanta, katemah de sang tiga. Iki elingakena, sekadi kecap ring ajeng.
Malih yan sira nguwangun karyene, ring ida betara ring dalem, makemiwah ring pamijilan, ika tuti adana dahat ngaran ika ngaran matengeran untuk surya, metapakan uku muang sasih, metemuang dewasa muang muang pamujan ida betara, nametapakan uku kabeh, ika wenang mapenerusan juga, was ring paretitana, peretiti mawak marga, marga mawak patuwunan, pemargan kelena, muang dengene buta yaks-yaksasine, saluwiringperetitit doh ala.
Malih tingkah panginih-inih, saking pengawit mekarye sesangan, matur puyuninga ring ida betare ring dalem, nunas peremenak idene, I Sedahan Jagalmangsa, aturin mengemban karyan titiange, muang nunas penyengker buta butine muang kala dergene.
Bantenia : sesantun abesik, ajuman putih kuning, canang gantal apasang, canang burat wangi, lenge wangi, peras kuning.
Ature : inggih ratu betere ring dalem, titiang nunas peremenak paduka betari Jero-sedahan I Jagalmangsa, aturin titiang ngmbelang karyan titange, mangnda terepi pisan kalih olan titange, telas.
Beras kuning ika, raris bakte budal, sambehang iderang ring pekaanganania, wus mangkana, nancebang sanggah cucuk, diarepan pawone, diarepan pamesuane, miwah bucun karang suang, banten ike tumpeng adanan :
Ring Ersania (kaja kangin) I Buta ulu guak,bene takuh siap.
Ring Genian (kelod kangin) I Buta uku asu, bene balung gagending.
Ring nereti (kelod kawuh) I Buta ulu gajah, bene padang belulang.
Ring Wayebiya (kaje kawuh), I bUta uleu kebo, bne padang belulang.
Ring pamesuane, I Buta beregenjeng, bene sake wenang.
Ring arepan pawone, aturin sang dewa pitara ane kesasar bene sakawenang.
Malih ring sampune nampah, mebanten sai-sai, ring sanggahe sami, muah, ring genahe nampah, bantenia nasi telepokan, ulamnia kawisan, sesantun abesik, canang apasang, lengewangi buratwangi, pengastawane ring sedahan Jagalmangsa, aturin ngamel olahane.
Iki kekudangania (sapuniki ature) :
Inggih ratu betari ring dalem, titiang nunas peremenak paduke betare, dana isedahan jagal mangsa, aturin titiang ngambel karyan titiange, mangda terepi, olahan titiange, aturan ring sanggahe sami, bebakaran, genah niabeten, ngawit ngawit saking pempatane, wus mangkana, raris ring setra, raris ring dalem.
Yan molaan wenginie, dumunang canange apasang, nyanyah geringsingan, kantewali duang cengkang, sesangtun abesik, bakaran abesik, raris celepang canange-kantealine dibatan widang pameruaha.
Mantere : Ong sangakala bungkem, bute-buti bungkem, yaksa yaksi bungkem, kumancang kumincing bungkem, dewa bungkem, sakuwehing manusa bungkem, saluwiring mangkian bungkem-bungkem-bungkem.
Malih pamginih-inih ring beras, muang sege (nasi) meserane busung rijanah bangke, kye iki rerajahania.
Wus memantra, genahakene ring beras, muang ring sege (nasi, bebantenie nasi akepel, benyalian mewadah cau, melaed don dapdop.
Mantra : Ong Seri teka, Seri ayu, Seri mendel, sidi mandi matranku, Ong Seri Mandel, Seri Ayu, Seri penuh, Seri genep, sidi mandi mantranku, Ong puspa jati, puspa ireng, utuh sai, lewih sai engkad sai, sege sai, kukuh sai, kobek sai, puser bape akasa, babu peretiwi.
Malih yan angagem karya, ring Ide betara, wiyadin amuje pitra, panerusania, masedane nasi atanding mewadah tebog, medaging enba, kacang-kacang, sesawur, sarin bonge limang soroh, riwus panuja genahakene beten, tas kara yang dewasa, Ong, mantra kene ping 5 (lima), ike ngaran pangembak lawang mainep, muang mus mangkana, ring pamuput karyane, muang ring dewa, yadin nawurpunagi (sesangi) yadin kepitra, di kalungsur bantene, wenang saagakarya wenang meberata, amti ara, ring pamuput karyene asapunika cihenania (cirine) muputang karya, berata mawak atma, berat ngaran bara (bare) sih ngaren telas.
Malih tegesing karya, ling (waah) Sang Hyang Purusangkara, uduh saluwiranng sang ngagem karya, sang mayun tuhu jadma, luputing sang kara papa, keramania sangkumingkin aken karya, kang nista, madiya, utama, manah lege dadi ayu, aja ngalem paderuweyan, muah kapuputan (pewaris) kaliliraning wang, aja angambekaken keroda, muang mojera gangsul, (ngerawos degag miwah alus ucapan) samangkana timgkana angamong karya, aja simpang budi, yan sida samangkana ulahta putus ganeenia, sami saha widi-widananira, katekeng tetaledan muang sesayut meraga dewasami, ketekeng wewangunan sami pada meraga dewa.
PULUTUK PAWILANGAN ETEH-ETEH SESATE BANTEN Ong Awegena mastu nama Sidem
Puniki yan mekarya soroh galaan, ngaran asoroh. Labeng duang galah, wenang pada, setengah lebeng matahnia, mungguwing jejatahnia pitung warna, luwirnia.
1. Lembat
2. Asem
3. Erapah mepucak ati
4. Jepit - Babi
5. Kuwung bungan duren
6. Jepit balung
7. Jepit gunting
Tekaning jajerone saunduh, ider buana, muang suluh dadua, balang selepitan pinalih sekadi ring arep, lebeng matahnia, muang berabas ayungnia, ngaran jajeronia saunduh, tekaning jejaringane. Ana sawilah, babi sawilah, ikut, cunguh, cadik ngatut tulang.
1. Balung giling
2. Balung bolong
3. Balung geganding
4. Balung ketupang
5. Balung ketupang agung
6. Balug cili
7. Balung cikal
8. Balung cikar tengari
9. Balung inger
10. Balung linggis
11. Balung dengkul
12. Balung pupur
13. Balung nake-buja
14. Balung nake-pada
Iki pinalih sekadi arep, lebeng matahnia, rerabasania sane rateng :
1. Urab-barak
2. Urab-putih
3. Urab-jenar
4. Urab-gadang
5. Papenyon
6. Rerubuhan
7. Penget
8. Rerawon
9. Palo akaputan melalak
10. Timbangan
11. Pesan kakempul
12. Oret
13. Kakutis
14. Urutan dadakan pada measte panjangnia
Iki ngaran ben panjang, sekadi arep, pinih kedik jejalah ipun sane kepanggih iriki.
Malih ana pereteka, nanging nganti penguduh itukang banten, keh-kedik ipun, ike tunasan ring sang mekarya banten, yadin tukange sane mewaste nukangin, sami maduwe indik.
Malih tegesing balung kadi ring sor, wastan balung-katerangan ipun, luwire :
1. Balung mudra ngaran balung tendas
2. Balung gerana ngaran balung cunguh
3. Balung inger ngaran balung bawonge beten kuping
4. Balung cikal ngaran balung bongkol cadike
5. Balung cikal tengari ngaran balung muncuk cadike
6. Balung cili ngaran Tulang giyinge matut iga isi babi kulit
7. Balung giling ngaran igena ngatut isi kulit
8. Balung bolong ngaran tulang giyunge ane tusing ngatut isi babi kulit muang iga
9. Balung iga ngaran ana tuare ngatut isi babi kulit
10. Balung gending pengatep peene bunter.
11. Balung linggis balung peene dempet
12. Balung dengkul balung entude
13. Balung laba - keri pale kiwa
14. Balung katupang balung silite
15. Balung ketupang agung balung silite maka bungkul
16. Balung pemubug ana duur balung silite
17. Nekat buja balung kukun batise
18. Naka pada, balung kukun batise
19. Balung igul balung ikute
Malih tegesing kalung, luwire :
20. Kalung lekeh = tulang giyenge ngatut isi babi kulit
21. Kalung gede = baonge natut isi babi kulit
22. Kalung meatun-antun = kalunge mesambung-sambung
23. Kalung kundali = kulit-lima-batis makiruk ne tusing pegat
24. Cok mirah = ketekane misi getih misi rames lawar ati, mepupuk antuk tansik embe mica
25. Penget = urabe genep, malih dagingin muluk muang papait, raris kaput metambus.
26. Payasan = ngaran pesan
27. Reraon = rubuhe dagingin sela, muang jejaringan kaput metambus.
28. Kakutis ngaran = semuuk
29. Oret ngaran = urutane mepanggang
30. Urutan dadakan = urutan magoreng
31. Ulam kuk = basange misi intukan misi biyu, matugel-tugel raris talihin
32. Alir-aliran = basange puyung maupin malih seet antuk kali
33. Suluh-suluhan balang selepitan = jejarone saunduh amet mider buana
34. Rerebasan ayung-ayung = r arebasane puput magenepan tekaning jejaringania, telas
Rekalaning mekarya ngasti-wedana muang nyawa wedana, saika peretekaning sane munggah ring arep, nanging malih pekayunin, den sang ngarsa biasa kena, lingin aksara iki dena anut, sedend-sedeng (muah kurang lewihin, yua kurang pereyatna, sang nganukangin ikita kabeh, muah ayua ngangge tukang banten tan weruhing sastra, tukang angeruk, ngaran yan tan nganutin linging aji, muah yan tukang tan weruhing tegesing pulutuk, saking aniru-niru, mapa kurang mapa luwih, den katah pada mesalah ungguan, tukang tejager ngaran iki.
Wastunia tan saking manutin sastra, nganggo sakewenang diawak, samben ngaranie ika, kedanda de yang Yama
Ritatkala ngawe sate mejujuk :
Penyeneng ( sate tegeh ).
Sangjatane miwah iringan satene, sekadi munggah ring gambar, manut ring pawilangan ring patutuk puniki.
Ring sampun puput pererekanie iki pemelapasnie :
Sesantun abesik, sapula kerti, jinah satak salai (225), perah abesik jinah selai (25) nasi sokan abesik, benik karangan dene genep.
Malih nasi agibung, benia bayuan atanding, jinah dua likur (22) sega cacaan solas tanding (11), benia jejatahan urab, abang, putih, sega kepelan telung kepel, benia bawang jae, telas.
Iti mantra pemelapasnie :
Mantra : Ong sang Hyang Mareka mungguh ring tumpukaning ati denira mungguh ring pucuking lidah, metu Sang Hyang Eto-Eto, anugeraha wong sinadean, tan keneng campahang Ong astu tatastu astu.
Pangurip mantra : Ong se - ba - ta - E - I - Na - Ma - Si - Wa - Ya. Wisuwa karma perayo janem ayu werdi ya namah, buana kerta ya namah.
Asep, mantra : Ong Brahma dewa ya namah
Ong Ludra ya namah
Ong Duasta ya namah
Ong kala-kali ya namah
Ong sarwa bawa wenama-nama-nama suaha
Tepung tawar, mantra : Ong sejana apta asasta, empu sirang sarining wesesa, tepung tawar amunahaken, sega uangelungsurakan saluwiring sebel kandel, gegodaanmu panganmu sangkala lara roga batanu, ong peras bungkah tekeng pare.
Tetebas, mantra : Ong wetaning raga dirgayusa angapus walung pila-pilu, angapus otot pila-pilu, angapus asta-guna gaweningulun.
Ngetisan toyo, mantra : Ong ya mewantu.
Sukayu mewantu
Purne ya mewantu
Sesarik, mantra : Ong sang Hyang Murti wisesa mungguh rung bau
kiwa-tangen
Sang Hyang urip mungguh ring kateganing ati,
amungkurana baya pakewuh, sira sang sang
sinarik-sarikan
Segaan, mantra : Ih sang bute sangepati sanwa wigeraha, iki tadah sajinira soang-soang, aja alik salah gawe, poma-poma-poma.
Raris tabuhin antuk tuak, arek, berem, wus mangkana wawusang ngaryanin nginditaken, telas

3. Rerainan

 

Rerahinan/Yadnya yang dilakukan berdasarkan Saptawara dengan Pancawara, Anggara Keliwon / Anggara Kasih, Budha Wage, Budha Keliwon, Saniscara Keliwo

a. Anggara Keliwon / Anggara Kasih
Pada hari ini meyoga Ida Sang Hyang Ludra, untuk membasmi segala kekotoran (leteh-letuh) di bumi, termasuk kekotoran tubuh, lahir dan batin. Widhi-widhana berupa canang reresik, canang puspa wangi-wangian, menyan astanggi dan asap harum dihaturkan ke hadapan Dewa Sang Hyang Ludra, untuk mohon belas kasihnya melebur dan membersihkan segala kekotoran dan kenistaan. Selesai bersembahyang dilakukan metirtha gocara
 
b. Budha Wage
Hari ini disebut pesucian/ peyogan Sang Hyang Manik Galih yang menurunkan Sang Hyang Ongkara Mreta di bumi. Pemujaan dilakukan di sanggah Kemulan dan di atas tempat tidur. Upakaranya: Canang reresik, Canang Yasa, asap dupa dan harum-haruman. Dihaturkan di sanggah Kemulan, memuja Dewi Sang Hyang Çri Nini, agar diciptakannya kemakmuran dunia dan agar hidup dan kehidupan mendapatkan keselamatan.
Pada malam harinya, dilakukan Dhyana dan Yoga semadhi, menciptakan budhi suksma, melepaskan atau menutup indrya, mewujudkan satu tujuan suksma suci.
 
c. Budha Keliwon
Hari ini dinamai pesucian (pembersihan) Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati. Pemujaan dilakukan di sanggah Kemulan dan di atas tempat tidur. Widhi widananya: canang reresik, canang yasa, kernbang pepayasan, puspa harum dan asap dupa astanggi. Dengan mengheningkan seluruh pikiran memohon keselamatan dunia dengan segala isinya dan keselamatan rumah tangga, agar memperoleh rahayu-werdhi dirgha yusa. Setelah upacara dilaksanakan, bersembahyang, kemudian dilakukan metirtha gocara.
 
d. Saniscara Keliwon
Hari ini bernama tumpek, turunnya Sang Hyang Widhi Wiçesa. Pada hari ini kita hendaknya selalu mengingat Sang Hyang Widhi Wiçesa (Sang Hyang Widhi Tunggal), yang mengaruniakan Sanghyang Dharma dan tatwa-tatwa / ilmu-ilmu pengetahuan. Pada hari tumpek ini dihaturkan upacara di sanggah / pemerajan, di pura, kahyangan dan parhyangan dengan upakara: canang burat wangi, canang yasa, canang reresik, puspa serba harum dan asap dupa astanggi.
Pada malam harinya, tidak diperkenankan melakukan pekerjaan, cukup dengan berdiam diri sambil mengheningkan cipta, menyatukan pikiran memuja Ida Sanghyang Dharma, yang turun melimpahkan karunia-Nya. Yang ingin dicapai adalah kesucian pikiran, timbulnya Budhi-sattwam, yang mengakibatkan kesempurnaan dan keselamatan dunia dan isinya.
Kita berdoa memohon limpah kemurahan dari Ida Sang Hyang Widhi Dharma, terutama pujaan kita terhadap Sang Hyang Widhi Wiçesa memohon restu untuk keselamatan kita di segala bidang.

 

4.Tanam Ari-Ari, Penuhi Janji Sang Bayi

 

Layaknya bayi, ari-ari juga seharusnya dirawat. Karena sang jabang bayi telah terikat janji.
Dalam Manawa Dharma Sastra 11.27 tersurat mengenai upacara Garbha Homa. Ada mitologi menceritakan bahwa bayi dalam kandungan di emban oleh Bhatara Çiwa, ini merupakan pengejewantahan dari konsep Hindu yang mengatakan bahwa Tuhan melindungi semua ciptaanNya.
Dalam lontar Angastia Prana diceritakan bahwa dalam kandungan (buana alit) saat mencapai sembilan bulan terjadi dialog antara Sanghyang Titah (Çiwa) dengan si jabang bayi. Bahwa ‘rumahnya’ dalam kandungan sang ibu itu hanyalah sementara dan menunggu saatnya Sanghyang Tuduh memerintahkan untuk lahir ke dunia. Namun, si jabang bayi justru takut menjelma ke dunia. Karena dianggap hidup di dunia ini penuh tantangan. Namun setelah dijelaskan oleh Bhatara Çiwa bahwa lahir ke dunia adalah untuk mencapai peningkatan diri guna mencapai kedekatan dengan Hyang Widhi maka mengertilah dia tujuan lahir ke alam fana ini. Dengan saran Bhatara Çiwa tersebut maka sang jabang bayi minta bantuan pada Sang Catur Sanak (saudara empatnya) yaitu ari-ari (plasenta), yeh nyom, lamas, dan darah. Empat unsur inilah saudara sejati dari manusia yang lahir dan hidup sampai mati kelak.
Maka terjadilah perjanjian akan saling tidak melupakan antara mereka. Yakni, nanti begitu saat di tuduh untuk lahir maka yeh nyom membukakan cupu manik sang ibu, darah memberikan tenaga (bayu), lamas memberikan zat pelicin, dan ari-ari (plasenta) mendorong keluar, dengan kerja sama yang sempurna lahir bayi ke dunia ini untuk mengembangkan dirinya serta membuka misteri dunia ini. Akibat dari perjanjian inipula, apapun upacara dan apapun yang diberikan pada si bayi selayaknya diberikan pula pada tempat ari-ari ditanam. Misalnya saat si bayi dimandikan selayaknya tempat ari-ari tersebut juga disiram. Saat bayi diberi makan, seharusnya di ari-ari tersebut juga dihaturkan makanan---ngejot.
Sebelum ditanam ari-ari di bersihkan dengan air biasa kemudian dengan air kembang telon (kum-kuman). Lalu dimasukkan dalam kelapa yang sebelumnya ditulis aksara Ah, bagian belahan bawahnya ditulis aksara Ang. Setelah disatukan pada bagian sambungan ditulis aksara Ongkara yang bermakna agar Sang Catur Sanak selalu mohon kekuatan Hyang Widhi untuk melindungi sang bayi dalam kehidupannya di dunia.
Kenapa menggunakan kelapa, Mangku Wiguna mengungkap dalam mitologi Hindu disebutkan bahwa kelapa itu adalah perwujudan kepala Dewa Brahma. Salah satu dari lima kepala Dewa Brahma diambil oleh Hyang Pramesti Guru dan dijadikan kelapa. Oleh karenanyalah Dewa Brahma berkepala empat dan dipuja sebagai Dewa Brahma Catur Muka. Dan dengan pemakaian kelapa tersebut adalah agar spirit dari Sang Catur Sanak dapat berguna untuk membantu si bayi mengembangkan kreativitas hidupnya agar bermakna dalam hidup ini. Tercapainya Dharma, Artha, Kama sebagai landasan umum mencapai tujuan akhir yaitu moksa.
Sebagai catatan penting, yang perlu diperhatikan saat menanam ari-ari adalah letak menanamnya. Jika anak yang lahir laki-laki kelapa tersebut ditanam disisi kanan pada pintu keluar (posisi menghadap keluar rumah). Jika yang lahir perempuan maka ari-arinya ditanam disebelah kiri. Sebelumnya kelapa kelapa tersebut dibungkus dengan kain putih. Ujung kain disatukan, diisi satu buah kwangen dengan uang kepeng bolong Bali tujuh biji kemudian diikat dengan benang tukelan Bali. Dilengkapi dengan bekel ari-ari yaitu daun lontar yang telah ditulisi huruf Bali. Secara umum isi dari sesuratan tersebut adalah mohon perlindungan pada Ibu Pertiwi dan mohon agar Ibu Pertiwi berkenan mengantarkan Sang Catur Sanak dan si jabang bayi menuju jalan yang ditentukan oleh Sang Pencipta. Lebih lanjut, Jero Mangku Yatna Wiguna mengungkap soal ukuran sesuratan yang akan dipakai. Dikatakannya, ukuran sesuratan tersebut sebaiknya dengan panjang satu jengkal dan lebar dua jari dan berlubang tiga. Pada lubang atas diikat dengan benang berisi uang kepeng Bali tiga biji.
Usai membuat sesuratan, semua sarana ditimbun. Setelah ditimbun, diatasnya ditanam pohon pandan berduri. Dalam mitosnya yang diambil dari cerita Dewi Adnyaswari disana diceritakan bahwa tetesan darah dari anak Catur Sanak tersebut tumbuh menjadi tanaman yang berduri. Selain itu makna memberi pandan juga dimaksud sebagai senjata untuk melindunginya. Kemudian ditindas dengan batu besar yang rata permukaannya. Di sebelahnya ditancapkan sanggah crukcuk dengan upacara banten peras telung sayut, penyeneng dan tumpeng pancawarna, sekar sarwa miik. Dan upakara untuk Catur Sanak berupa segehan kepelan Catur Warna, lauknya bawang jae diisi sedikit garam dan satu tangkih berisi sedikit beras, porosan, benang Bali dan dua biji uang kepeng dengan sampeyan plaus. Adapun maksud dari sanggah crukcuk ini adalah sebagai stana Sang Hyang Prajapati.
Sedangkan untuk upakara si bayi yaitu nasi muncuk kuskusan dan dapetan satu tanding. Kemudian pada ari-ari tersebut didampingi dengan lampu minyak yang berfungsi sebagai penerangan dan pembakaran guna sama-sama meningkatkan kesucian antara bayi dan Catur Sanaknya. Ditambahkan, sebaiknya menggunakan lampu yang memakai minyak kelapa.
 

5.Tiga Bulanan

 

Om Swastyastu. Upacara Tiga Bulanan dilaksanakan pada saat bayi berusia 105 hari atau tiga bulan menurut perhitungan Kalender Bali, yaitu 3 x 35 hari = 105 hari. Tujuannya adalah:
  1. Berterima kasih kepada “nyama bajang” atas bantuannya menjaga si-bayi sewaktu masih di dalam kandungan dan karena tugasnya sudah selesai, memohon nyama bajang kembali ke tempatnya masing-masing.
  2. Menguatkan kedudukan Atman yang “numitis” di tubuh si-bayi.
  3. Mensucikan si-bayi.
  4. Meresmikan nama yang diberikan orang tua kepada si-bayi.
PENJELASAN NO. 1
Menurut Lontar Tutur Panus Karma, Nyama Bajang adalah kelompok kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang bertugas membantu “Kanda Pat” dalam menjaga si-bayi dalam kandungan.
Nyama Bajang terdiri dari 108 mahluk halus, antara lain bernama: bajang colong, bajang dedari, bajang dodot, bajang lembu, bajang yeh, bajang tukad, bajang ambengan, bajang papah, bajang lengis, bajang bukal, bajang kunir, bajang simbuh, bajang deleg, bajang bejulit, bajang yuyu, bajang sapi, bajang kebo, bajang helang, bajang kurkuta, bajang lelawah, bajang kalong, bajang kamumu, bajang haa, dan lain-lain.
Kanda Pat adalah: ari-ari, lamas, getih, dan yeh nyom. Bila nyama bajang tugasnya selesai segera setelah bayi lahir, maka Kanda Pat terus menemani bayi sampai besar – tua bahkan sampai meninggal dunia dengan perubahan nama sebagai berikut:
Segera setelah si-Ibu tidak menstruasi, Kanda Pat terbentuk dengan nama Karen (calon ari-ari), Bra (calon lamas), Angdian (calon getih), dan Lembana (calon yeh nyom); embrio bernama Lengprana.
Ketika kandungan berusia 20 hari Kanda Pat bernama Anta (calon ari-ari), Prata (calon lamas), Kala (calon getih), Dengen (calon yeh nyom); si-jabang bayi bernama Lilacita.
Kandungan berusia 40 minggu/ bayi lahir, Kanda Pat bernama Ari-ari, Lamas, Getih, dan Yeh nyom; bayi bernama I Pung.
Setelah tali pusar mengering dan putus, Kanda Pat bernama I Mekair (ex ari-ari), I Salabir (ex lamas), I Mokair (ex getih), dan I Selair (ex yeh-nyom); si bayi bernama I Tutur Menget.
Setelah bayi belajar berkata-kata, Kanda Pat bernama Sang Anggapati (ex ari-ari), Sang Prajapati (ex lamas), Sang Banaspati (ex getih), dan Sang Banaspati Raja (ex yeh nyom); si bayi bernama I Jiwa.
Anak remaja berusia 14 tahun atau gadis yang telah menstruasi pertama, Kanda Pat bernama Sang Sida Sakti (ex ari-ari), Sang Sida Rasa (ex lamas), Sang Maskuina (ex getih), dan Sang Aji Putra Petak (ex yeh nyom); anak bernama I Lisah.
Manusia sudah tua/ bercucu, Kanda Pat bernama Sang Podgala (ex ari-ari), Sang Kroda (ex lamas), Sang Sari (ex getih), dan Sang Yasren (ex yeh nyom); manusia bernama Sang Ramaranurasi.
Bila manusia baru meninggal dunia, Kanda Pat bernama Sang Suratma (ex ari-ari), Sang Jogormanik (ex lamas), Sang Mahakala (ex getih), dan Sang Dorakala (ex yeh nyom); Atma bernama Sang Manjing.
Atman yang masih dibungkus oleh Karmawasana ber-reinkarnasi ke dunia, sedangkan Atman yang sudah bebas dari bungkusan Karmawasana bersatu dengan Tuhan (Kanda Pat bersatu pada): Siwa (ex ari-ari), Sada Siwa (ex lamas), Parama Siwa (ex getih), dan Sunia Siwa (ex yeh nyom).
Pada waktu Upacara Tiga Bulanan, sebagai ucapan terima kasih dan ucapan “selamat jalan” (semacam farewell party) kepada Nyama Bajang, dilaksanakanlah acara “Mebajang colong” atau “Mecolongan”.
Upakara yang disiapkan adalah banten Bajang Colong sedangkan Nyama Bajang disimbolkan dengan “raregek”. Selain itu Kanda Pat juga diupacarai dan disimbolkan sebagai berikut: papah kelapa (kalau ada yang bolong) simbol ari-ari, mentimun simbol lamas, pusuh (jantung pisang) simbol getih, dan batu bulitan simbol yeh nyom.
Peralatan/ upakara lainnya yang digunakan: ayam pesolsolan simbol atma, pane simbol bumi, air dalam pane simbol akasa, lesung batu simbol kekuatan, tangga tebu simbol Sanghyang Semara Ratih, palit tangga tebu dari kayu dap-dap tiga buah simbol utpti-stiti-pralina, gelang kaki simbol Brahma, gelang tangan simbol Wisnu, dan pupuk simbol Siwa.
Terlebih dahulu simbol-simbol itu diupacarai dengan urutan: mareresik, mapasupati, matepung tawar, malis-lis, dan ngayab banten. Setelah simbol-simbol itu diupacarai, segera di-pralina: raregek dan papah dibawa ke pinggir sungai diiringi lagu “Bibi anung”, batu bulitan, pusuh, dan mentimun ditanam di dekat tanaman ari-ari. Setelah itu barulah bayi dimandikan di-pane setelah menaiki tangga tebu tanpa menginjak tanah, diteruskan dengan “megogo-gogoan”.
PENJELASAN NO. 2
Setelah megogo-gogoan, bayi natab banten Bajang Colong yang tadi digunakan untuk simbol-simbol itu, kemudian mapasolsolan ayam sebagai simbol menguatkan kedudukan atma pada tubuh si bayi.
PENJELASAN NO. 3
Sebelum bayi natab banten sambutan, dilakukan upacara “mapetik”, yaitu memotong rambut bayi di lima tempat, yaitu di ubun-ubun, di samping kanan, belakang, samping kiri, dan di “usehan” sebagai simbol membuang “leteh” atau kotoran karena rambut itulah yang dibawanya sejak dari rahim Ibu.
Dengan rangkaian upacara ini maka hilanglah sebel (cuntaka) bagi si-bayi. Apabila ada orang yang belum diupacarai tiga bulanan, walaupun sampai tua dia tetap sebel (cuntaka).
PENJELASAN NO. 4
Setelah selesai acara natab sambutan, maka bayi dihadapkan ke Palinggih Kemulan. Tanah di depan Kemulan terlebih dahulu dirajah dengan gambar Bedawang Nala, diperciki tirta palukatan/ pabersihan; kaki bayi dicuci dengan air biasa, lalu diinjakkan di tanah itu tiga kali sembari matur kepada Ida Bethara Kemulan nama yang diberikan kepada si bayi.
Inilah pertama kali bayi boleh menginjakkan kakinya di tanah. Pemberian nama kepada bayi mengandung nilai sakral karena dilakukan di hadapan Ida Bethara Kemulan. Oleh karena itu nama seseorang tidak boleh diganti oleh siapapun kecuali oleh Ayah-Ibu kandungnya.
Di masyarakat sering terjadi kekeliruan yaitu mengganti nama orang seenaknya, misalnya oleh yang bersangkutan sendiri dengan maksud agar kelihatan lebih keren. Selain itu bagi wanita keturunan orang tidak bertitel Triwangsa, jika dikawini oleh laki-laki keturunan orang yang bertitel Triwangsa, lalu namanya diganti dengan sebutan Jero. Nama Jero … itu “anugerah” dari pihak laki-laki, katanya untuk meningkatkan status “wangsa” si gadis.
Menurut Lontar Dharma Kauripan, tindakan ini salah karena menghianati kasih sayang Ayah-Ibu (Guru Rupaka), apalagi kalau ayah-ibu kandungnya sendiri lalu “matur” kepada anaknya dengan sebutan Jero. Anak dan keturunannya kemudian tidak akan menemukan kebahagiaan karena mengabaikan salah satu “Panca Srada”, yaitu hormat kepada leluhur.
Inilah salah satu contoh paham feodalisme yang meracuni Agama Hindu. Seharusnya nama gadisnya tetap digunakan selama hayat di kandung badan. Lain halnya dengan seseorang yang me-Dwijati, nama ketika Walaka diganti dengan nama baru (Bhiseka) karena orang yang bernama Walaka itu telah “seda raga” sehari sebelum upacara Padiksaan.
Pada upacara Padiksaan lahirlah seorang Brahmana dari Mpu Nabe (Guru putra) dan Gayatri (Weda) di mana Mpu Nabe memberikan nama (Bhiseka) yang baru.
Di zaman dahulu, Raja-raja juga berganti nama setelah dinobatkan (Bhiseka Ratu) oleh Pendeta (Mpu Nabe) sebagai raja; misalnya Airlangga ketika dinobatkan sebagai Raja Kediri pada tahun 1019 Masehi bergelar Sri Maharaja Rakehalu Sri Lokaiswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikramattunggadewa, kemudian setelah berusia lanjut beliau meninggalkan tahta kerajan lalu menjadi Pendeta di mana Mpu Nabe-nya memberikan Bhiseka: Rsi Jatayu.
Bagi para rohaniawan Ekajati karena tidak melalui upacara Seda Raga namanya tidak diganti tetapi diberikan gelar kesucian misalnya Jero Mangku, Jero Mangku Gede, Jero Dalang, Jero Gede dan lain-lain, tidak beda dengan gelar-gelar keahlian dewasa ini misalnya SE, SH, Drs, dr, Dr, Prof, dll.
Dalam kasus-kasus itu nama kelahiran tetap tidak diganti. Demikianlah segi sakral suatu nama bagi seseorang menurut pemahaman Agama Hindu yang benar.
Om Santih, Santih, Santih, Om

Related Articles



1 comments:

Anonymous said...

Om Swastyastu. Becik pisan daging blog puniki. Yening dadaos tunas minab becik yening dagingin lontar-lontar sumber mantra punika. Rahayu.

Post a Comment

Terima kasih, komentar anda sangat berarti bagi Blogputrasekarbali. Isi pendapat anda tentang blog ini di Testimoni.

Link Sahabat Putrasekarbali

BANNER SAHABAT

Buat Sobat yang mau pasang Banner di sini, silahkan tinggalkan alamat banner anda di buku tamu atau di kolom komentar blog ini, buat yang sudah pasang bannernya disini, terimakasih dan salam persahabatan dari Putrasekarbali


PUTRASEKARBALI © Putrasekarbali Melajah Ngae blog, pang sing orahange blog, nu masi blog