Selasa, Oktober 19, 2010

Daksina – Makna Serta Cara Membuatnya

 

clip_image002

Daksina disebut Juga "YadnyaPatni" yang artinya istri atau sakti daripada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru/ Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.

Unsur-unsur yang membentuk daksina, diurut dari isi terbawah hingga diatas yaitu:

  • Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya. Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
  • Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina; terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan )
  • Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampak adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos. tampak juga melambangkan swastika, yang artinya semoga dalam keadaan baik.
  • Beras; yang merupakan makanan pokok melambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)
  • Sirih temple / Porosan; terbuat dari daun sirih (hijau – wisnu), kapur (putih – siwa) dan pinang (merah – brahma) diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan.
  • Kelapa; adalah buah serbaguna, yang juga simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria.
  • Telor Itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira. dipakai telur itik karena itik dianggap suci, bisa memilih makanan, sangat rukun dan dapat menyesuaikan hidupnya (di darat, air dan bahkan terbang bila perlu)
  • Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya. Dalam tetandingan Pisang melambangkan jari, Tebu belambangkan tulang.
  • Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki, dari segi warna putih (ketulusan)
  • Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan / perempuan, dari segi warna merah (kekuatan). Dalam tetandingan melambangkan dagu.
  • Gegantusan; merupakan perpaduan dari isi daratan dan lautan, yang terbuat dari kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, garam dan ikan teri yang dibungkus dengan kraras/daun pisang tua adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.
  • Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian / langsat / ceroring lambang Mahadeva, daun salak / mangga lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).
  • Bija ratus adalah campuran dari 5 jenis biji-bijian, diantaranya; godem (hitam – wisnu), Jawa (putih – iswara), Jagung Nasi (merah – brahma), Jagung Biasa (kuning – mahadewa) dan Jali-jali (Brumbun – siwa). kesemuanya itu dibungkus dengan kraras (daun pisang tua).
  • Benang Tukelan; adalah alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. dalam tetandingan dipergunakan sebagai lambing usus/perut.
  • Uang Kepeng; adalah alat penebus segala kekurangan sebagai sarining manah. uang juga lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.
  • Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)
  • Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
  • Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria

Seperti dijelaskan dalam Lontar Yadnya Pelutaning , Daksina  adalah simbol salam kepada manifestasi Tuhan ( Ida Sanghyang Widhi Wasa ). Daksina juga berarti buah yadnya. Setelah upacara, daksina disajikan kepada pemimpin upacara untuk bersyukur. Sebagai simbol manifestasi, Daksina diisi dengan 13 unsur sebagaimana tercantum di bawah ini.

 

daksina

 

clip_image003

Unsur-unsur Daksina


1. Bedogan (baca menjadi - do - gan). Ini adalah simbol dari alam semesta untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Ibu Pertiwi.

bedogan

clip_image004

2. Tetampak (baca te - tam - pak). Ini adalah simbol RTA untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Rwa Bhineda .

tapak dara

clip_image006 

3. Beras (baca menjadi - RAS).

 

Ini adalah simbol suasana untuk manisfestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Bayu.

 

beras

clip_image008

 

4. Porosan Silih Asih .

 

Ini adalah simbol kekuatan Kama untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Semara.

 

silih asih

 

clip_image010

 

 

5. Pangi .

 

Ini adalah simbol laut untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Baruna .

 

pangi

clip_image011

 

6. Gegantusan .

 

Ini adalah simbol dunia misterius bagi perwujudan Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Indra .

 

gantusan

clip_image012

7. Pepeselan .

 

Ini adalah simbol dari vegetasi untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Sangkara

 

pesel-peselan

 

clip_image013


8. Kelapa .

 

Ini adalah simbol matahari untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Surya .

 

kelapa

 

clip_image014

 

9. Adeng .

 

Ini adalah simbol bulan untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Wulan.

 

Adeng

 

clip_image015

 

10. Tingkih .

 

Ini adalah simbol bintang manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Tranggana .

 

tingkih

clip_image016

 

11. Benang Tetebusan .

 

Ini adalah simbol awan untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Aji Akasa.

 

benang tetebusan

 

clip_image017

 

12. Jinah Bolong .

 

Ini adalah simbol ruang luar untuk manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Mertha .

 

jinah bolong

 

clip_image018

 

13. Canang sari .

 

Ini adalah simbol titik, yaitu Compas, timur, selatan, utara barat, dan pusat manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Panca Dewata.

 

canang


clip_image019

 

Cara Membuatnya :


1. Masukkan Tetampak ke Bedogan.
tapak dara ke bedogan

 

clip_image022

 

2. Masukkan Beras, Silih Asih, Pangi, Gantusan dan Pesel-peselan ke Bedogan

 

clip_image024

 

3. Tempatkan Kelapa di atasnya.

clip_image026

 

4. Masukkan Adeng, Jinah Bolong, tingkih dan Tetebusan Benang di Kelapa.
kelapa tingkih Adeng jinah bolong

 

 

clip_image027

 

   5. Terakhir, tempat Canang Sari di atasnya.

 

 

clip_image028

Sekarang Daksina sudah siap di pakai untuk sarana upacara dan upakara.

 

Selain itu Daksina juga ada beberapa jenis tergantung dari besar kecilnya upacra dan upakara .

Adapun Jenis-jenis Daksina di maksud adalah sebagai berikut :

  1. Daksina kelipatan 1 : daksina alit.
  2. Daksina kelipatan 2: daksina pakala-kalaan (Manusa Yajna).
  3. Daksina kelipatan 3: daksina krepa (Rsi Yajna).
  4. Daksina kelipatan 4: daksina gede/pamogpog (upacara besar).
  5. Daksina kelipatan 5: daksina galahan.

 

Semoga tulisan ini bermakna dan berguna buat kita semua.

 

Sumber : berbagai sumber


Related Articles



3 komentar:

Sandy Rachmad mengatakan...

Wach, makasi banget tentang info Daksinanya.
Sekedar info kalo ada yang butuh kelapa daksina, dalam jumlah kecil maupun besar, bisa coba hubungi 081936209169. Harganya pasti bersaing.

Putrasekarbali mengatakan...

@Sandy Rachmad: Terima kasih sobat atas komentarnya dan untuk info kelapa daksinanya semoga saja ada sobat-sobat blogger yang menghubungi sobat untuk transaksinya...salam

Bagus Pradnyana mengatakan...

OM Swastyastu,
saya pingin tanya nih,, saya sering ngeliat org2 ganti daksina pas purnama/tilem,, maknanya apa ya? kalo harus purnama/tilem, kenapa?
suksma sebelumnya;thx b4 :D
OM shanti shanti shanti OM

Poskan Komentar

Terima kasih, komentar anda sangat berarti bagi Blogputrasekarbali. Isi pendapat anda tentang blog ini di Testimoni.

Link Sahabat Putrasekarbali

BANNER SAHABAT

Buat Sobat yang mau pasang Banner di sini, silahkan tinggalkan alamat banner anda di buku tamu atau di kolom komentar blog ini, buat yang sudah pasang bannernya disini, terimakasih dan salam persahabatan dari Putrasekarbali


BLOGPUTRASEKARBALI © Putrasekarbali Melajah Ngae blog, pang sing orahange blog, nu masi blog